Etika Santri Salaf ; Kang Rofiq


 


Etika Santri 

A.    Pondok Pesantren Tempat Yang Paling Relevan

Pesantren menjadi tempat hijrah paling cocok bagi pemuda masa kini. Bukan hanya paling cocok, tapi paling aman (menurut Kang Rofiq). Memang ada sebagian pesantren yang tidak sejalan dengan ahlussunah waljamaah, tidak cocok dengan pola pikir masyarakat Indonesia. Wali santri harus selektif memilih pesantren untuk anaknya.

Pola hidup santri akan berubah secara perlahan dari yang sebelum dan saat, bahkan sesudah mondok. Mulai dari cara makan, cara berjalan, cara tidur, dan lain sebagainya. Karena materi utama di pesantren adalah masalah adab kemudian ushuluddin. Mayoritas asatidz, bahkan bisa dikatakan keseluruhan, setiap mengajar pasti akan mengingatkan terhadap pentingnya sopan santun santri.

 

B.     Pentingnya Akhlaq

Dalam masalah pentingnya akhlak bagi santri, Kang Rofiq (dalam salah satu seminar) pernah bercerita tentang salah satu yang menjadi penyebab berimannya para tukang sihir Fir’aun. “Perlu kalian ketahui, penyebab tukang sihirnya Fir’aun beriman pada Nabi Musa as.. adalah karena akhlak mereka. Saat mau memulai sihirnya, mereka izin dulu pada Nabi Musa as. Mereka berkata: Wahai Nabi Musa, kami dulu atau anda yang melempar tongkat pertama kali?”, dawuh beliau.

Lalu beliau mengutip firman Allah Swt. dalam Qs. Taha (20) : 66,

Santri juga dilarang minum atau makan dengan tangan kiri. Alasannya simpel, karena setan senang makan dan minum dengan tangan kiri. Hal ini juga termasuk anjuran Rasulullah Saw. kepada umatnya. Beliau bersabda:

اذا اكل احدكم فليأكل بيمينه واذا شرب احدكم فليشرب بيمينه فان الشيطان يأكل بشماله ويشرب بشماله

Ketika diantara kalian makan, hendaklah menggunakan tangan kanannya, begitu juga sewaktu minum. Karena setan makan dan minum menggunakan tangan kiri (HR. Imam Muslim, Bulughul Marom, hal. 329)

 

C.    Etika Makan dan Minum

Santri pasti ditegur apabila minum dengan tangan kiri. Tapi, terkadang santri cari alasan untuk membenarkan kesalahan mereka. “Selesai makan, saya minum pakai tangan kiri karena tangan kanan masih ada sisa makanan, jadinya kotor”, jawab mereka. Iya, alasan tersebut bisa saja diterima. Apalagi wadah airnya dipakai bergiliran, bisa-bisa jijik yang setelahnya.

Namun, tetap saja itu kurang baik, tetap usahakan minum pakai tangan kanan. Caranya, basuh dulu tangan yang kanan. Ambil lap atau tisu untuk mengeringkan tangan, baru kemudian minum. Apalagi cuma air kemasan, tentu tidak perlu digilir, karena sudah ada bagian masing-masing, langsung minum saja.

Adapun santri yang langsung minum dari kran yang disediakan untuk minum, ataupun langsung ngambil dari bak mandi, maka tetap usahakan duduk dan menggunakan tangan kanan. Karena aturan pesantren tetap berlaku kacuali terdesak.

Menurut Kang Rofiq, disebagian pesantren ada yang melarang santrinya makan atau minum dengan wadah plastik. Setiap ada acara, semisal seminar, pasti disuruh membawa bekal masing-masing dengan wadah yang ramah lingkungan. Menjaga lingkungan dari bekas wadah makanan atau minuman yang dapat menyebabkan kerusakan bumi.

Ada juga pesantren yang menganjurkan makan secara mayoran. Mayoran dalam arti satu nampan dengan beberapa orang. Artinya 3 atau 5 santri makan bersama dalam satu nampan. Hal ini merupakan anjuran Rasulullah Saw.. Beliau bersabda:

فاجتمعوا على طعامكم واذكروا اسم الله يبارك لكم فيه

Makanlah kalian secara bersama-sama, dan bacalah basmalah. Maka Allah Swt. akan memberikan keberkahan pada kalian (HR. Abu Daud).

Oleh karena itu, santri tidak diperbolehkan makan sendirian. Karena makan bersama dapat membawa keberkahan. Makanan yang biasanya tidak mengenyangkan, sebab bersama-sama bisa kenyang.

Masih banyak aturan dan etika makan ataupun minum yang diterpakan dalam setiap pesantren. Ini menandakan begitu besarnya perhatian pondok pada santri sehingga dalam urusan makan saja sudah diatur sedemikian rupa.

Masih menurut Kang Rofiq, sikap ta’dzim merupakan sikap terbaik yang dilakukan seorang santri terhadap kiainya. Sikap ini menjadi sangat melekat dan menempel pada sebuah identitas seorang santri. Sikap ini selalu ada pada setiap pesantren. Tadzim berarti menghormati dan mengagungkan seseorang yang dianggap dituakan. Sikap ini terjadi karena seorang santri mencari ilmu saja tidak cukup kalau tidak menuruti perintah kiainya. Khususnya, di Pondok Pesantren Attanwir Talun Sumberrejo Bojonegoro  sikap tadzim menjadi sangat mengental. Karena itu Lembaga Pesantren kemudian disebut Pesantren Ahklak. Pondok Pesantren Attanwir Talun Sumberrejo bojonegoro  ini adalah Pondok Pesantren Modern dan juga Tradisional atau biasa disebut dengan Salafi. Al-Ghazali juga pernah mengatakan bahwa “Yang namanya murid/siswa/santri/pelajar harus bersikap tawadhu/rendah hati terhadap seorang guru/ustad/kiyainya. Dengan cara demikian ia akan tercapai cita-citanya. Ia juga harus menjaga keridhoan gurunya”. Begitu istimewanya seorang kiyai ini sehingga kita harus sangat tunduk kepadanya. Maka tidak salah lagi ketika seorang kiai menjadi patokan pertama yang wajib dihormati dan diagungkan. Dengan demikian semoga keterangan yang disampaikan oleh Kang Rofiq  ini dimaksudkan bisa menjawab permasalahan tentang bagaimana sikap tadzim santri di Pondok Pesantren Attanwir Talun Sumberrejo bojonegoro sesuai dengan  pemikirannya Al-Ghazali.

https://www.youtube.com/watch?v=mlqIv7aet1k

D.    Etika Mushofahah (Salaman)

Dan disunahkan mencium tangan orang yang masih hidup karena kebaikannya dan sejenisnya yang tergolong kebaikan-kebaikan yang bersifat diniyyah' (agama), kealimannya, kemuliaannya sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat pada baginda nabi Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam dalam hadits riwayat Abu Daud dan lainnya dengan sanad hadits yang shahih. Baca :

 

وَيُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ يَدِ الْحَيِّ لِصَلَاحٍ وَنَحْوِهِ من الْأُمُورِ الدِّينِيَّةِ كَزُهْدٍ وَعِلْمٍ وَ شَرَفٍ كما كانت الصَّحَابَةُ تَفْعَلُهُ مع النبي صلى اللَّهُ عليه وسلم كما رَوَاهُ أبو دَاوُد وَغَيْرُهُ بِأَسَانِيدَ صَحِيحَةٍ

 

Dan dimakruhkan mencium tangan seseorang karena kekayaannya atau lainnya yang bersifat duniawi seperti lantaran butuh dan hajatnya pada orang yang memiliki harta dunia berdasarkan hadits “Barangsiapa merendahkan hati pada orang kaya karena kekayaannya hilanglah 2/3 agamanya” :

 

وَيُكْرَهُ ذلك لِغِنَاهُ وَنَحْوِهِ من الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ كَشَوْكَتِهِ وَوَجَاهَتِهِ عِنْدَ أَهْلِ الدُّنْيَا لِخَبَرِ من تَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ لِغِنَاهُ ذَهَبَ ثُلُثَا دِينِهِ

 

وَيُسْتَحَبُّ تَصَافُحُ الرَّجُلَيْنِ وَالْمَرْأَتَيْنِ لِخَبَرِ ما من مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إلَّا غُفِرَ لَهُمَا قبل أَنْ يَتَفَرَّقَا رَوَاهُ أبو دَاوُد وَغَيْرُهُ نعم يُسْتَثْنَى الْأَمْرَدُ الْجَمِيلُ الْوَجْهُ فَيَحْرُمُ مُصَافَحَتُهُ وَمَنْ بِهِ عَاهَةٌ كَالْأَبْرَصِ وَالْأَجْذَمِ فَتُكْرَهُ مُصَافَحَتُهُ كما قَالَهُ الْعَبَّادِيُّ وَتُكْرَهُ الْمُعَانَقَةُ وَالتَّقْبِيلُ في الرَّأْسِ وَالْوَجْهِ وَلَوْ كان الْمُقَبِّلُ أو الْمُقَبَّلُ صَالِحًا

 

“ Disunnahkan bagi dua orang laki-laki atau perempuan bersalaman ketika berjumpa berdasarkan hadits “Tidak dari dua orang muslim yang saat berjumpa kemudian saling bersalaman kecuali mereka diampuni dosanya sebelum keduanya berpisah“ (HR. Abu Daud dan lainnya), dikecualikan saat berjumpa amraad (pria tampan yang tidak berkumis) maka haram berjabat tangan dengannya, begitu juga orang orang yang sedang menyandang penyakit menular, seperti lepra dan kusta maka makruh bersalaman dengannya sebagaimana yang diterangkan oleh al-Ubbaadiy. Dan makruh saling berangkulan dan mencium kepala serta wajah saat bertemu meskipun orang yang mencium/yang dicium adalah orang shalih“

Keterangan yang dikutip oleh Kang Rofiq bahwa : disunahkan mencium tangan sendiri setelah berjabat tangan.

ويسنّ تقبيل يد نفسه بعد المصافحة قاله ابن حجر

 

“Dan disunahkan mencium tangan sendiri setelah berjabat tangan, hal ini dinyatakan oleh Ibn Hajar".



Comments