Bid'ahnya Kenduren 3 Hari, 7 Hari, 40 Hari dan 100 Hari


Banyak kalangan sejarawan, pemikir, dan peneliti berpendapat bahwa tradisi kenduren (kenduri) merupakan hasil karya Walisongo dalam mengajarkan Islam kepada masyarakat jawa agar lebih mudah dimengerti sesuai dengan kultur budaya yang sudah ada di jawa. 

Namun pendapat berbeda dikemukakan oleh pengamat budaya dan sejarah, Agus Sunyoto. Menurutnya, tradisi kenduren (kenduri) pada saat peringatan kematian yang dilakukan oleh umat Islam di jawa bukanlah berasal dari tradisi kultur yang sudah ada di jawa (yakni pengaruh Hindu atau Budha). Menurutnya, dalam ajaran Hindu atau Budha tidak dikenal kenduren dan tidak pula dikenal peringatan kematian pada hari ketiga, ketujuh, ke-40, ke-100 atau ke-1.000.

Ulama salafussholih sangat menganjurkan bersedekah atas mayit, entah itu 3 hari, 7 hari 40 hari, 100 hari ataupun 1.000 hari.

Pernyataan para Ulama ini berdasarkan pada hadits berikut ini. 

عَنِ اْبنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِىِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِى تُوَفِيَتْ أَفَيَنْفَعُهَا أَنْ اَتَصَدَّقَ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَإِنَّ لِى مِحْزفًا اُشْهِدُكَ إَِنِى تَصَدَّقْتُ بِهِاعَنْهَا (رواه البخارى والترمذي وأبو داود والنسائى) 

Sahabat Ibnu Abbas telah meriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada kanjeng Nabi Muhammad SAW. Dia berkata; ibu saya meninggal dunia, Apakah ada manfaatnya jika saya bersedekah untuk ibu saya? Rosulullah menjawab, “Ya berguna untuk ibumu.” Orang itu berkata lagi, “Saya mempunyai sebuah kebun dan engkau Rosulullah aku jadikan saksi bahwa aku telah menyedekahkan kebunku itu untuk ibu saya.” (HR Bukhori, Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i)

Jadi, peringatan hari kematian adalah merupakan hal yang sangat penting dan bukan merupakan (bid'ah) keharaman, dikarenakan mereka (mayit) selalu menanti doa dan sedekah dari keluarga dan sahabat yang masih hidup. 


Salam waras Kang Rofiq

Wallahu A'lam

Comments

Post a Comment